Minggu, 27 Januari 2013

BEBAN KALOR DAN SISTEM PENYEGAR UDARA


Beban Kalor
Suasana dalam ruangan suatu bangunan selalu diusahakan supaya keadaannya dalam keadaan aman dan nyaman agar penghuninya terhindar dari perasaan gelisah dan membosankan. Untuk itu baik kondisi interior maupun pengaruh dari luar yang berubah-ubah diusahakan tidak mempengaruhi kenyamanan dari ruangan, maka untuk istilah dibuat suatu pengkondisian yang baik dengan membuat sistem penghantar dan pendinginan yang aktif. Perancangan penghangatan, ventilasi dan pengkondisian udara harus dimulai dengan mengetahui sifat-sifat termal dinding, atap yang menentukan kapasitas dan energi  kerja yang dibutuhkan.
Untuk itu perlu menjejaki prosedur-prosedur dalam menentukan nilai pengaruh sifat-sifat termal dinding bangunan untuk merancang penghangatan, ventilasi dan pengkondisian udara/heating, ventilating, dan air conditioning atau HV AC yang diperlukan untuk menciptakan keadaan nyaman.
Jadi beban kalor terdiri dari beban kalor ruangan dan beban kalor alat penyegar  udara yang ada dalam ruangan.
1). Beban Kalor Ruangan.
Gambar 2.17 menunjukkan suatu contoh instalasi pendingin ruangan yang mempergunakan alat penyegar udara/air conditioner). Bila dilihat dari proses  pendinginan pada gambar tersebut adalah seperti berikut :
Udara ruangan diisap masuk ke dalam alat penyegar atau bercampur dengan udara luar (keadan 1 dan 2)
1.       Campuran udara menjadi keadaan pada (3)
2.       Udara (3) didinginkan dengan jalan mengalirkan melalui koil pendingin
3.       Bila permukaan koil pendingin temperaturnya lebih rendah dari titik embun dari udara 93) maka uap air dalam udara akan mengembun pada koil pendingin
4.        Akibat pengembunan sehingga perbandingan kelembaban udara (4) akan berkurang.
5.        Apabila temperatur udara (4) terlalu rendah, maka udara tersebut dapat digunakan dengan mengalirnya melalui koil pemanas sehingga diperoleh  temperatur udara sesuai yang dibutuhkan.
6.       Dalam operasi pemanasan bila udara panas menjadi kering maka perbandingan kelembaban udara dapat dinaikkan dengan menyemprotkan air pelembab
7.       Udara (6) seklah melalui blower berangsur-angsur menjadi panas
8.       keadaan 97) dan akhirnya masuk ke dalam ruangan
9.       Supaya dapat berfungsi untuk mendinginkan, udara (7) haruslah masuk pada temperatur dan perbandingan kelembaban lebih rendah dari ruangan (1)
10.   Bila udara (7) dan (1) bercampur kelembabannya naik menjadi sama dengan udara (1)
11.    Udara (7) menyerap kalor sensibel dan uap air (kalor) laten akan menjadi dalam ruangan.
Dalam proses yang terjadi tadi, kalor sensibel dan kalor laten yang terjadi di dalam ruangan menjadi beban kalor (heat load) dari ruangan yang bersangkutan.Oleh karena itu beban kalor ini harus diatasi oleh udara yang keluar dari alat penyegar supaya kondisi udara di dalam ruangan dapat dipertaruhkan padakondisi yang diinginkan baik temperaturnya maupun kelembabannya.
Beban kalor ruangan terdiri dari :
a.        Kalor yang masuk dari luar ruangan ke dalam ruangan
b.      Kalor yang bersumber didalam ruangan itu sendiri (beban kalor interior)
2) Beban kalor alat penyegar udara
Seperti terlihat pada gambar 2.17. maka untuk menghasilkan udara penyegar yang masuk ke dalam ruangan dari alat penyegar udara yang diinginkan jumlah kalor yang harus dilayani oleh alat –alat penyegar adalah sebagai berikut :
1.       Beban kalor ruangan
2.       Beban kalor dari udara luar yang masuk ke alat penyegar
3.       Beban blower dan motor
4.        Kebocoran dari saluran
3.2. Beban kalor ruangan dan udara penyegar
Dalam hal ini harus dipahami betul bahwa yang menentukan disini adalah beban kalor sensibel dan beban kalor laten. Apabila kita menginginkan temperatur ssuatu ruangan diinginkan t r’C dan temperatur udara penyegar yang masuk adalah t a, maka jumlah udara penyegar yang  diperlukan adalah :
3.3 Titik embun alat penyegar udara
Bila dilihat dari segi persamaan seharusnya titik embun dari alat penyegar udara hampir sama dengan titik embun dari yang bersangkutan dengan perbandingan kelembaban dan udara penyegar. Tetapi pada kenyataan titik embun dari alat penyegar adalah 1o atau 2oC lebih rendah dari hasil perhitungan menurut persamaan  hal ini disebabkan temperatur permukaan koil pendingin di dalam alat penyegar harus diperhitungkan karena adanya faktor penyimpangan seperti terlihat pada gambar 2.18.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar